Galeri Foto

MA'HADUNA KHOS PONDOK PUTRI

Galeri Foto

PENGAJIAN KITAB KUNING SALAF OLEH KH. Drs. SA'AD BASYAR

Galeri Foto

IMTIHAN QIROAT AL-KUTUB SEBAGAI SALAH SATU SYARAT KELULUSAN

Galeri Foto

KEWAJIBAN 'AIN SETIAP SANTRI ADALAH SHALAT JAMA'AH

Galeri Foto

EKSTRAKURIKULER REBANA

Galeri Foto

EKSTRAKURIKULER MENJAHIT PESANTREN

Galeri Foto

WISUDA SEBAGAI TANDA KELULUSAN DAN MASA AWAL PERJUANGAN MELANJUTKAN DAKWAH PESANTREN

Kamis, 18 Juli 2013

KARENA TUHAN MENCINTAIMU

Sang bayu menerpa wajah dengan perlahan. menemani dalam lamunan panjang dan kehampaan. Menjadi saksi bisu goresan hati yang menyayat dan membawa gelisah dan juga tangis. sepasang mata yang menerawang jauh, mencari-cari sebuah jawaban dalam kebisuan alam. Namun, tak kunjung jua didapatinya.

Egoisme….rasa yang tak seharusnya dilesatarikan, rasa yang seharusnya dikubur dan dibuang jauh. tapi dialah pelengkap hidup dan jika telah kuasai hati, maka ia akan buata kan pikiran dan menjadikan penyesalan yang besar pada diri yang hina ini. Semusim kenangan seakan-akan tergadai  dalam suatu bingkisan baru. Sedangkan pandangan ….hanya tinggal pandangan batas. Hanya tergeletak tanya yang menggelayut diantara masa yang tak kunjung terjamah. Meninggalakan hati yang menangis yang penuh kesakitan. Dan tabir merah jingga yang menutupi hidup, yang terlukis disela-sela mega diantara awan di langit senja menutupi angan dan melayang hilang dalam langit dunia yang penuh misteri jua ilusi.

Syifa terlihat begitu murung dan lesu. Semenjak suara telepon berbunyi di kantor pondok dan itu ditujukan untuk dirinya.

“Syifa sayang …. maaf ya , berhubung jadwal pekerjaan Ayah terlalu bamyak ayah tidak bisa datang di acara akhir sekolahmu...!” Ucap suara dari seberang sana yang memupmuskan angannya  seketika itu juga. Syifa mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan-lahan “ya sudah, tidak apa-apa kok yah!” ucapnya dengan berat. “Kenapa sich..aku hanya seperti temanku yang lain. apa aku salah....?” batinnya  dengan rasa kecewa dan sedih.

Kabut hitam menyelimuti hati. menggerogoti rasa yang bersarang dalam jiwa, memikat hati dan aliran peluh air mata kesedihan. Andaikan saja...semua rasa mampu untuk imengerti, mugkin rass sakitlah itu tak kan melanda raga ini...! Andai saja...semua mampu menganggap keberadaan, mungkin seperti air dalam geriba kecil itu takkan selusuh luka....

Syifa duduk termenung dalam kesenduan sesaat, peluh air matanya meleleh basahi matanya berkawan dengan isak sang langit, yang mendinginkan makhluk bumi.

“Dek Syifa....ada  telepon untuk mu...!” ucap mbak Hanik pengurus pondok yang tiba-tiba sudah berada disampingnya. Dan dengan tersentak kaget Syifa pun menjawab “oh iya mbak...iya...!” dengan langkah yang berat dan suasana hati yang sendu, Syifa segera menuju ke kantor. Dan Fifi yang sejak tadi mencari dan mencemaskannya pun cepat mengambil  langkah seribu mengikuti , setelah dia  melihatnya.

 “Assalamualaikum... “ ucap Syifa pelan.

“Waalaikumussalam..” Balas suara dari seberang telpon dengan bersahaja. “Adik , kenapa....?” Tiba-tiba hati kak Fatih tidak tenang . “Adik sakit ya...?” tambahnya. Dengan tersendu menahan isak tangisnya Syifa mengambil nafas lebih dalam .

”Kak...kakak. harus kesini bagaimanapun caranya....!” Adik pengen seperti temen-temen yang lain kak, bisa imerasakan kehadiran dan kehangatan keluarga saat hari bersejarahku”.

“Kalau seperti ini, adek ingin menyusul bunda saja. Dulu waktu bunda masih hidup , bunda lah yang temaniku , tapi sekarang...? Adek sendiri.” Diam sejenak. Syifa tak mampu lagi untuk membendungnya . satu, dua  butir  air matanya pun menetes, “Ayah selalu sibuk  dan hanya punya waktu untuk bunda siska (ibu tiri) juga  dek Rio, sedangkan kakak...? Kakak juga terlalu sibuk dengan pekerjaan . Adk butuh semangat dari keluarga”.

“Kehangatan itu.. adek rindukan. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat kak...! dan selama itu pula, adek tidak mendapatkannya dari keluarga sendiri tapi malah dari keluarga Fifi, sahabat baikku”.

“Apakah karena adek yang sebabkan bunda tiada, hingga keluarga tak peduli dan menjauhi  diriku?” ucapnya dengan hati terguncang dan terus terisak.

Jauh dari seberang telepon , Fatih yang mendengar tangis adiknya, hatinya teriris. Dia merasa telah gagal menjalankan amanah bundanya.

“Fatih ....waktu Bunda tidak lama lagi, jaga adikmu baik-baik , dia masih kecil dan kamu”.  kenang Fatih dengan ucapan mendiang bundanya.  

Hening sejenak,

“Bunda seperti itu bukan salah dek Syifa, jadi jangan salahkan dirimu sendiri...!” tukas  Fatih.mendengar ucapan Fatih, Syifa langsung melempar gagang telpon dan keluar kantor sambil menangis tersedu-sedu. Melihat telpon yang masih berbunyi Fifi, mengambil gagang telpon itu,

”Assalamualaikum....”.Ucap Fifi.

“Waalaikumussalam...” jawab Fatih. “Ini Fifi ...kak! maafkan Syifa ya kak...Om Bakhtiar kemarin telpon dan ngasih kabar kalau dirinya tidak dapat datang karena sibuk ada pekerjaan, padahal Syifa berharap ayahnya bisa menyaksikan  dirinya dianugrahi trofi bintang pelajar,” Cerita Fifi pada Fatih.

Kabut tipis terus sesak penuhi hati membuncah hingga tiada terkendali . Rasa kecewa terus menggelayut dalam jiwa. Bersama gerimis yang semakin padat. Fatih menstater motornya hendak menemui Syifa. Fatih merasa tidak tenang  kalau belum menemui Syifa. Hujan lebat yang disertai kilatan sambaran petir tidak mengurungkan niat Fatih. Di perempatan jalan, lampu lalu lintas yang semula hijau menyala merah tidak disadari Fatih, Tiba-tiba truk trailer dari arah barat meluncur  dan brak...suara keras terdengar dari benturan antara motor Fatih dan Truk itu dan Ftih terpental  jauh dengan tubuh berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.

Angan-angan tiada arti lagipun menghilang dalam diri. Peluh air mata terus terurai di pelupuk mata Syifa, dengan sesal  yang tiada henti  Syifa menuju RS.Telogo Rejo tempat kakaknya dirawat.Karena keegoisannya harus menjadikan kakaknya menjadi korban dan ras sesal selalu datng terlambat.

”Kak Fatih...!” ucap Syifa lirih dengan mata yang berkaca-kaca karena penuh dengan air mata. Suara lirih dan dengan menahan rasa sakit yang amat terdengar dari bibir yang tampak begitu pucat itu. “Dek Syifa.....” Ucap Fatih.

“Kakak maafkan aku, gara-gara aku kakak jadi begini?’ sesal Syifa.

Sudut bibir kanan dan kirinya yang memutih itu, dia coba tarik untuk mempersembahkan seulas senyuman pada keluarga tercinta. “Ayah...” suaranya sedikit bergetar. “tolong, jangan kecewakan adek Syifa lagi...!” .” Aku titip adek sama ayah...” ucap Fatih.

“Kakak...kakak...bicara apa, aku ingin kakak sembuh.” ucap Syifa.

“Adek...kakak tidak mungkin akan selalu menjaga adek...manusia tidak akan pernah ada yang abadi, jadi adek jangan sedih ya kan masih ada bapak....!” ucap Fatih terakhir kalinya.

“Tiba-tiba saja nafas Faih tersengal-sengal . “kakak...kakak...kakak.” jerit Syifa. Jiwa kini telah terlepas dari raga , meninggalkan kefanaan dunia dan melayang-layang kembali dalam pelukan kasih-Nya.

Malam mengayun dalam derap-derap tasbih-Nya. Namun , duka dan rasa bersalah terus mengoyak batin dan bisikan-bisikan cinta kasih-nya terus berhembus bersama sang angin. Semua adalah  kehendak–Nya . Meski terlalu sakit  untuk diterima kau dan aku...Bentuk kasih-Nya selalu bertentangan dengan apa yang kau inginkan. Hidup itu tak mudah. kesakitan,,,kekecewaan....kesedihan....kesusahan...dan semua yang terjadi adalah pertanda ” Karena  Allah Mencintaimu”.


ISLAM IN THE MODERN WORLD

“The Relevance of Islam in the Modern World” is what everyone is talking about. I often find myself in the middle of discussions questioning, ‘are the Islamic traditions (shariah) relevant to the problems faced by modern world?’ The most argued point which springs up in every discussion is the dire and rather declining situation of the Muslim World in contrast with the progressive ‘Modern’ West.  One may be justified in saying that the vast majority of the Muslims are not concerned with the modern world. No doubt, part of the reason for this is that, like most of the rest of world’s inhabitants, they are uninformed and short-sighted; in any case, they have the immediate worldly and spiritual concerns of everyday life to keep them occupied. But a profoundly positive attitude can also be discerned behind this ‘lack of concern.’ To the extent that Muslim are faithful to their own heritage and partially uninfluenced by recently manufactured ideologies, they are certain of Islam’s truth and its ability to provide them with everything that is necessary for human life and hereafter.

May I also suggest that, today many people from all religions are not sure about what their own religions teach. So many compromises have been made with  the’ Modern world’, especially in the last few decades, that the boundary between the absolute and the relative, truth and error, Goodness and evil, Beauty and ugliness has been totally obscured. Fundamental concepts such as ‘Truth’ and ‘Goodness’ have been help up to a doubting scrutiny that many ‘believers’ of these religions no longer think they have meaning. Modernism has been used as cover to introduce the principles of secularism into the minds of people. Secularism being the separation of life’s affair from reverence. A better definition would be the changing of religion from religion to a complete sham. Perhaps, this also answers the question, the clarity and lack of ambiguity in the basic tenets of Islam may help some people to reconsider the bases of their faith. 

Anyway, in spite of the negative picture I may have drawn, the above description of most muslims shows that the Islamic traditions are far from dead despite living in a time of immense skepticism. A time where humans rely on oft repeated ’norms’ and ‘truths’ rather than look at the reality of our situation and the divine truth. Skeptics may ask; how can a way of life that was implemented fourteen centuries ago be applicable today? Humans have ‘progressed’ and our lives have changed dramatically since then. Our tools of production, means of trading and modes of communication would be unrecognized by the desert Arab of the 6th Century CE.

So, what of Modernism? The utterances of illusionist are no longer ‘abracadabra’ and ‘hey presto’. The magic words are now; ‘new and improved’ and ‘best ever’. This modern, plastic disposable society is obsessed with what is new and what is modern. The spin used to sell us soft drinks is also used to sell us ideas about; life, culture, society and politics. Does new really men better? Just because this is repeated to us over and over again ad nauseam, it does not mean that it is true. The average speed of travel in Alfa Romeo t-spark on the grid-locked streets of London is no faster than horse-back in the Middle Ages. The main differences being a stereo system and one in seven children becoming asthmatics. This example may seem flippant, but we should all be quicker to question modernity than we are to question Islam.

The complexities of human existence and communal living are bewildering. If we are to take stock of who are and how we live, we will find certain basics remain constant. We have certain organic needs and instincts that have never changed. The first man was in need of food, water and air to breath etc. all other human beings since have all had these necessities. Islam had various laws revealed concerning the intake of food. Because we have not done away with the need to eat those laws may still be lived by today. 20th Century living has not stopped Muslims from being mindful of Islamic dietary laws. Take for example :

“O you who believe ! When the call proclaimed to prayer on Friday (the day of  Jum’ah), hasten earnestly to the Remembrance of Allah, and leave off business (bai’a) : that is best for you if you but knew! And when the Prayer is finished, then may you disperse through the land, and seek of the Bounty of Allah: and celebrate the praises of Allah often (and without stint): that you may prosper.” (62:9)

The law that  Allah (SWT) has laid down in this verse is that is forbidden for the male mature Muslim to trade at the time of Friday prayers. The word bai’a (trading) is explicitly mentioned. However, it is not only trading that is forbidden during this period. To be more accurate, a Muslim may not busy himself during this time. ‘Busying oneself’ is still the same today and ever since the time of the Prophet (saw). ‘Busying oneself’ has never changed and never will change. To sit and watch television is still ‘busying oneself’, to read the newspaper is still ‘busying oneself’. To cook, clean or crochet is still ‘busying oneself’. All of these are far removed from trading. Nevertheless, they are all forbidden at the time of Jum’ah.

The principle of studying the text of Islam and finding its application today is a whole science in its own right. But it is a science that Muslims should all have conviction and confidence in. These are principle which have not changed in essence since the time of the Prophet (saw). The fine details of these things have obviously changed but the essence and hence the rule is still apt, appropriate and applicable. Allah (SWT) has people with intelligence and knowledge to make them capable of bringing rules from the Qur’an and the Sunnah.

What sustains the strength of Islamic Shariah is not only the authority of government. The citizens must have belief and have confidence in Islam. This confidence and belief not only helps them in this life and the hereafter as individuals, but helps to implement Islam as a whole unit. These are the political implication of believing in Islam as a complete way of life. Muslims should naturally have the strength to participate in the dialogue concerning problems of the modern world, presenting Islam as the ideological to secular capitalism.

The philosophy that ‘new is good’ is what instills in Capitalist nations an insatiable need for ‘newness’. The principles that fuel Capitalism, are the same principles that fuel consumerism. Muslims should consider consumerism, capitalism and secular philosophy inextricably linked.  Moreover, we should consider them all alien to Islam, i.e. Kufr. We may be justified in asking; how is it that these ideas become so popular amongst Muslims? We must remember that these ideas were not adopted by in the Islamic lands over-night. They were slowly injected into the Ummah in a most subtle and devious way. 

(Faridah Khusna)

Rabu, 17 Juli 2013

GLOBALISASI DALAM MEMBENTUK INSAN KAMIL

Seiring dengan berputarnya waktu dan zaman,kecanggihan dan kemajuan alat-alat tehnologi menuntut kita untuk bisa bersaing dalam pergulatan zaman yang mana penuh dengan tantangan,aral,cobaan yang melintang yang siap menguji keyakinan spiritual kita dalam meraih kedudukan derajat manusia yang hakiki.Persaingan di abad21 ini penuh dengan adanya kompetisi keseimbangan akidah,moral,dan juga nilai-nilai budaya yang berlaku di masyarakat dalam menjalankan norma-norma demi menciptakan kesalehan individu dan sosial.

Tidak dapat di pungkiri lagi bahwasanya globalisasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap insan individu dalam bersaing secara sehat dan objektif.Akan tetapi bukan malah menjauhi dan lari dari kenyataan yang sedang terjadi.Dalam hal ini sikap respon defensif sangatlah di butuhkan akan tetapi juga harus di barengi dengan respon ofensif.Dari sinilah kita bisa menelaah sikap bijak yang harus kita tempuh secara profesional dalam menghadapi abad modern ini.Bagaimanakah sikap yang harus kita ambil dalam menggapai cita dan asa baik di dunia maupun di akhirat kelak?

Adanya keseimbangan dan keserasian antara akidah,motivasi dan inovasi dalam tujuan hidup akan mengantarkan kita pada puncak kejayaan martabat manusia sebagai mahluk yang berakal dan juga berfikir dalam menemukan kreasi imajinasi yang siap bersaing dalam abad ini.Dan lebih pentingnya lagi jika agama juga di jadikan sebagai landasan dasar,inspirasi,dalam membangun masyarakat madani di zaman sekarang ini.

Dalam hal ini peranan pondok pesantren juga ikut andil berpartisipasi dalam membentuk insan kamil yang ahli dalam segala hal dan juga di tuntut untuk bisa mencetak santri religius-intelektual.Keseimbangan dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu agama dan sains merupakan pijakan utama yang harus direalisasikan demi menciptakan khayra ummah.Sejalan dengan hali itu pula hal ini merupakan tanggung jawab bersama oleh umat islam.Karena untuk menciptakan kader-kader muslim yang cendekiawan yang berkualitas dan siap berkompetisi dalam era globalisasi.Akan tetapi kedudukan mereka juga sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa yang selalu mampu memadukan antara dzikir,dan fikr untuk kemajuan dunia dan untuk menyebarkan pilar-pilar dakwah islam di muka bumi ini.

Maka dari itu sudah saatnya kita sadar,sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan kebodohan yang akan mengencam kemajuan syiar islam.Cita –asa dan martabat agama dan juga negara ada pada pundak kita.maka dari itu,Allah sangat mengecam kebodohan.Sudah saatnya kita berprestasi,berkompetisi melalui ajaran-ajaran islam yang religius-intelektual.Persaingan berat di saat sekarang ini akan menjadi pacuan buat kita untuk bisa bergerak aktif-responsibility dalam menggapai tujuan hidup yang sebenarnya dengan mengamalkan ajaran al-qur’an dan as-sunnah yang juga di barengi dengan kemahiran tehnologi untuk mewujudkan kemuliaan dan kemenangan umat islam yang akan membentuk ‘izzu al-islam wa al muslimin dan menafikan al islam mahjubun bi al-muslim.


Akhirnya,dengan dibekali iman,taqwa.dan iptek umat islam mampu menjawab semua problematika yang terjadi dalam masyarakat yang akan mewujudkan  rahmatan lil alamin.Semoga dengan adanya globalisasi ini dapat memacu semangat kita dalam meraih prestasi dan imajinasi dalam memajukan dakwah islam dan memberantas kemunkaran yang akhirnya akan tercipta amar ma’ruf nahi-munkar.

waallahu a’lam bisshowab

(Anieq khodijatul ulya)

MEMBACA PERINTAH DARI LANGIT

Membaca bukan sebuah hobi tapi sebuah konsep hidup. Membaca menempati posisi dan kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, membaca merupakan sarana manusia untuk belajar dan mengajar.

Jika kita merenungi kisah turunnya malaikat Jibril pertama kali kepada Rasulullah SAW. Bukankah kalimat pertama kali yang mengajak kita berfikir ialah kalimat agung, yang menjadi permulaan wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW, yakni kalimat ''Bacalah!'' Bisa saja wahyu pertama kali turun dengan dimulai kalimat yang lain selain kalimat tersebut. Akan tetapi, Al-Qur'an yang turun selama dua puluh tiga tahun ini dimulai dengan kalimat ''Bacalah!'' Padahal Rasulullah SAW adalah seorang yang ummi (tidak bisa membaca). Betul, kalimat ini ditujukan kepada beliau, sementara beliau sendiri tidak bisa membaca. Walaupun beliau juga memiliki ribuan keutamaan dan akhlak mulia, sehingga sebenarnya bisa saja Al-Qur'an memulai dengan membicarakan masalah akhlaq Rasulullah SAW. Tetapi, wahyu yang turun kepada penutup para rasul itu dinulai dengan menggunakan kalimat perintah yang jelas, to the point, ringkas, dan dalam satu kalimat yang mengandung arti sebagai pedoman hidup manusia, yakni kata-kata, ''Bacalah!''

Sejarah islam juga mencatat bahwa perpustakaan Islam merupakan perpustakaan yang paling besar di Dunia. Bahkan, tidak ada yang menandinginya dalam jangka waktu yang sangat lama. Di antaranya adalah perpustakaan Baghdad, Kordova, Isybiliyah, Gharnathah, Kairo, Damaskus, Tarabulus, Madinah, dan Al-Quds. Inilah sejarah yang sangat panjang dari segi pengetahuan, kebudayaan, dan keilmuan. Inilah nilai membaca dalam kacamata Islam. Sayangnya, dengan semua catatan sejarah dan seluruh nilai yang ada, saat ini umat islam sedang mengalami "buta huruf" yang sangat dahsyat. Kondisi ini jauh berbeda dengan umat Al-Qur'an dan umat zaman dahulu. Padahal, kata pertama yang ada dalam Al-Qur'an adalah sama,yakni, "Bacalah!". Fenomena ini terjadi pada sekelompok orang yang tahu baca tulis dengan baik, atau mereka yang telah menyelesaikan studinya di universitas. Bahkan, bahkan dalam masyarakat yang betul-betul memahami baca tulis, terkadang justru tidak begitu paham mengenai sesuatu yang penting bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat.

Manusia zaman sekarang tidak lagi mau membaca, meski hanya sekedar membaca yang bisa menopang hidupnya agar selamat. Apalagi membaca yang bisa menghasilkan ilmu, menghasilkan keterampilan khusus, dan meraih pengetahuan yang tinggi. Dengan demikian, sikap berbahaya ini merupakan penolakan terhadap peradaban. Sebab, kunci agar umat ini bangkit adalah kalimat "Bacalah!"
Umat tidak akan maju tanpa membaca. Karena itu, salah satu tokoh Yahudi mengatakan, "kita tidak takut dengan orang Islam.Sebab, orang islam adalah umat yang tidak membaca." Sungguh benar apa yang dikatakan Yahudi tadi. Padahal, ia adalah seorang pendusta. Jadi umat yang tak mau membaca adalah umat yang tak punya harga diri dan tak perlu ditakuti.


Selain keengganan untuk membaca, di sana ada masalah lain. Yakni, kebanyakan pemuda yang menghabiskan waktunya, tidak selektif dalam memilih bahan bacaan yang mereka baca. Di antara mereka ada yang berjam-jam menghabiskan waktunya setiap hari untuk membaca puluhan halaman berita olahraga, kesenian, roman percintaan, cerita-cerita porno, dan teka-teki silang. Mereka membaca huruf-huruf dan kata-kata yang banyak, namun tak ada manfaatnya. Karena itu, berlalulah waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun begitu saja. Lalu apa yang dihasilkan dari membaca itu semua? Tak ada sama sekali. Untuk menghindari itu semua maka hadirkanlah niat di hati, bahwa kita membaca adalah semata-mata karena Allah telah memerintahkan kita dan agar kita dapat berguna bagi agama dan negara.

(Ahmad Farid Anwar)