Rabu, 17 Juli 2013

BERPRINSIP SALAF BERFIKIR KHOLAF

Istilah santri identik dengan sarung, peci atau jilbab. Istilah tersebut telah membumi di kalangan para muslim di dunia, sehingga jika ada seseorang yang berfashion lebih modis di anggap telah keluar dari kodratnya sebagai muslim sejati, padahal tidak sedikit dari mereka yang berchassing modis mempunyai tingkat intelektual yang tinggi dan lebih bermoral dibandingkan dengan mereka yang terlihat anggun, dimana keanggunan tersebut hanya dijadikan formalitas belaka. Sebagai seorang santri tidak harus memakai pakaian yang nglombrot sebagai symbol dari sikap qonaah, akan tetapi dia harus berpenampilan sewajarnya sesuai kode etik seorang muslim yang mempunyai prinsip menjaga kerapian dan kebersihan agar eksistensinya tidah diremeh banyak orang. Sejalan dengan sebuah pepatah ان الله جميل يحب الجمال (sesungguhnya Allah itu indah dan Dia menyukai keindahan).

Sejalan dengan perputaran waktu yang begitu cepat, aktivitas alam yang semakin meningkat, menimbulkan  inovasi-inovasi baru yang timbul dari para cendekiawan-cendekiawan dunia yang terobsesi dengan kemajuan- kemajuan yang tengah gencar, sehingga banyak dari generasi muda islam terpengaruh dengah derasnya arus pergulatan budaya dan globalisasi sehingga mereka jauh dari tatanan adab yang telah terintis dari ulama-ulama islam dahulu. Modernisasi tidak selamanya akan mengalahkan agama kita yang telah dinisbatkan oleh Sang Penguasa sebagai agama nomor satu dari beberapa agama yang dinomorsatukan.  Merupakan kewajiban yang hakiki bagi santri untuk selalu menjaga serta melestarikan prinsip dan perjuangan para ulama dengan membentengi dirinya dari segala yang melenceng dari syariat islam.

Keterbelakangan merupakan hal yang sangat signifikan dikalangan generasi islam. Berbagai gadget dan aplikasi- aplikasi baru yng telah marak ini, tidak menutup kemungkinan para santri mengikuti perkembangan yang telah ada, karena tanpa memerhatikan hal tersebut para santri akan ketinggalan dengan mereka – mereka yang selalu mengupdate kabar- kabar terbaru. Disamping mereka ahli dalam membaca kitab kuning (kitab gundul) dan mengaji, mereka juga selalu update dengan informasi terkini. Terlebih dalam tradisi tulis menulis, dimana dalam proses tulis menulis tersebut akan membantu mereka dalam pencurahan segala pengetahuan serta ilmu yang didapat. Mereka dituntut untuk mampu menulis dengan baik, agar dapat menuangkan gagasan dan beraktualisasi diri melalui media. Apalagi menulis merupakan variable da’wah, selain melalui lisan dan perbuatan. Sebuah ilmu tidak akan bertahan jika tidak diikat. Sebagaimana ahabat Ali bin Abi thalib pernah berkata : “ilmu itu bagaikan hewan peliharaan, maka ikatlah ia dengan tulisan”. Tradisi menulis dikalangan pesantren dan santri mulai melemah dalam beberapa dasawarsa terakhir. Padahal sebelumnya, lingungan keagamaan khas nusantara itu, memiliki tradisi yang kuat dalam hal menulis. Sebaai contoh kecil, pesntren juga melahirkan banyak tokoh islam popular melalui karya ilmiahnya. Sebut saja, di antaranya, KH. Hasyim Asyari (jombang), KH. Bisri musthofa  dan Gus Mus (Rembang), KH. Ali Ma’shum (jogjakarta) dan lain sebagainya dari beberapa ulama islam yang mengikat ilmunya dalam karya ilmiah.

Problem keterampilan menulis di kalangan intelektual muslim sebetulnya sudah terasa sebagai problem akut yang sampai saat ini belum terpecahkan. Kondisi tersebut juga tidak dapat lepas dari situasi budaya. Proses kodifikasi alquran juga beranjak dari para hamilul quran yang khawatir akan hilangnya hafalan yang mereka punya dan ketika mereka sudah wafat tidak akan ada lagi yang menjaga alquran sehingga pengkodifikasian tersebut sangat diprioritaskan. Alquran ditulis dalam mushaf, begitu juga hadist-hadist nabi juga dibentuk tulisan.

Sebagai intelektual muslim, haruslah melestarikan ilmu – ilmu terlebih ilmu agama (Ulumuddin) dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari, sehingga mereka tidak terkena peluru globalisasi yang akan meruntuhkan dunia islam. Berprinsip salaf berfikir kholaf, itulah semboyan santri dalam menantang pergulatan budaya agar tidak tertinggal dengan bangsa lain. Berfikir dinamis untuk menuju jembatan kesuksesan tanpa melenceng dari kode etik syariah, harus ditanam oleh para santri dalam menegakkan dan memperjuangkan agama Allah. Hal yang perlu digaris bawahi oleh mereka adlah jangan pernah memiliki rasa takut dalam menjalani sesuatu yang baik walaupun banyak tantangan dan ujian yang mendera. Buktikan bahwa santri adalah penerus para pejuang islam dan intelektual yang bisa mengalahkan dan menghancurkan segala atsar global di era kontemporer ini.


So…..sebuah inovasi baru, ponpes darul ulum memiliki jejaring internet yang bisa menghapus keterbelkangan para santri, terlebih santri tulen yang jauh dari dunia luar. Apalagi lokasinya dikelilingi sebuah sungai dan rumah masa depan (tempat pemakaman). Beruntunglah kalian bisa tholabul ilmi di ponpes darul ulum yang menyajikan berbagai ilmu yang bisa menuntun kalian menjadi manusia berkualitas dan berkuantitas serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. (redaksi)

0 komentar:

Posting Komentar