Galeri Foto

MA'HADUNA KHOS PONDOK PUTRI

Galeri Foto

PENGAJIAN KITAB KUNING SALAF OLEH KH. Drs. SA'AD BASYAR

Galeri Foto

IMTIHAN QIROAT AL-KUTUB SEBAGAI SALAH SATU SYARAT KELULUSAN

Galeri Foto

KEWAJIBAN 'AIN SETIAP SANTRI ADALAH SHALAT JAMA'AH

Galeri Foto

EKSTRAKURIKULER REBANA

Galeri Foto

EKSTRAKURIKULER MENJAHIT PESANTREN

Galeri Foto

WISUDA SEBAGAI TANDA KELULUSAN DAN MASA AWAL PERJUANGAN MELANJUTKAN DAKWAH PESANTREN

Kamis, 25 Juli 2013

KH Ahmad Fathi MN; Istiqomah dalam Mengajar

KH. Achmad Fatchi MN
rohimahullohu ta'ala
Kelahiran.
Abah sebutan nama itulah para santri Darul Ulum memanggilnya, beliau adalah pengasuh pondok pesantren Darul ulum yang ke-dua menggantikan KH. Ahmad Zaenuri setelah wafat. Selain dikenal dengan ke'alimannya beliu juga patut dicontoh dan diteladani bagi santri-santrinya.
                
Untaian bintang yang berbaris diujung langit, yang menyinari kegelapan, disusul sinar surya yang beriringan bayangan, seakan menyambut lahirnya calon Kyai yang akan dikenang jasa-jasanya sepanjang masa dan menyinari kegelapan pada hamparan di Desa Ngembal rejo. Beliau adalah KH Ahmad Fathi MN anak yang pertama dari tujuh bersaudara dari pasangan keluarga kyai Muhdor dan Siti Hamdanah.

Beliau lahir pada tanggal, 22 Desember 1948 M.  Dari garis keturunan  bapak, beliau memiliki silsilah dari warga Ngembal rejo, kemudian dari jalur Ibu memiliki silsilah dari daerah  Menara kudus.

Masa Menimba Ilmu
Tidak berbeda pada anak-anak kecil lainya beliau tumbuh dan berkembang seperti halnya anak-anak pada umumnya . Beliau sejak kecil di besarkan di keluarga  yang religi , beliau pertama kali mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR). Seiring berjalanya waktu demi memperdalam dan bekal dalam kehidupanya, pada saat  usia duabelas tahunan  beliau mulai melakukan rihlah atau pejalanan menimba ilmu agama di pondok pesantren.

Sudah menjadi tradisi, bahwasanya pondok pesantren merupakan tempat untuk mencetak calon-calon ulama’dan pemikir  islam yang berkarakter tawaddu’.   Pada tahun 1951 M, Pesantren Ma'rufah desa Cibulek  Kajen-lah yang menjadi tujuan utama beliau dalam menimba ilmu. Disaat masa menimba ilmu didesa itu  beliau  menunjukkan kegigihan dan kejeliannya dalam memperdalam ilmu agama islam .Akhirnya pada tahun 1959 M beliau dapat  tamat di  Madrasah Matholiul Falah selama delapan tahun, dalam perjalanan nyantri  tersebut beliau juga menghafal alfiyah ibnu malik sampai khatam.

Dari riwayat  sumber lainya diceritakan bahwa sebelum pergi nyantri kepondok lasem beliau terlebih dahulu sillaturrohim ke dalemnya Bapak Kyai sholichan  dalam isi pembicaaraanya  beliau mengatakan saya pergi nyantri dulu kalau sudah saya akan membantu dan mengabdi di Madrasah Diniyah Pon-Pes Darul Ulum, di jawab oleh bapak sholichan jangan pulang dulu kalau syarat masih ada.      

Setelah menamatkan belajar di Matholiul Falah, beliau tidak menampakkan kebosanannya sehingga kembali melanjutkan nyantri di pondok pesantren Al-Islah Lasem dibawah asuhan Syeh Masduki. Namun pada perjalanan beliau kali ini sangat membutuhkan kerja keras karena kebutuhan ekonomi yang kurang mencukupi dan akhirnya beliau memutuskan untuk tetap mengaji dan sambil bekerja, Aktivitas tersebut di jalani hingga sepuluh tahun tepatnya pada tahunn 1969 M, disamping itu beliau juga nyantri kilatan di berbagai pendok-pondok  besar lainnya  seperti di Jombang ,Ploso dan pondok-pondok  lainya yang ada di daerah  Jawa Timur.

Pernikahan
Menginjak usia beliau yang semakin dewasa, tibalah saatnya beliau melaksanakan Sunnah Rasull, dan mengakhiri masa mudanya untuk memilih pendamping hidupnya dalam menyebarkan agama islam dikampung halamanya yaitu Desa Ngembal rejo dan tepatnya pada tanggal 31 maret 1978  beliau memilih Nyai Hj Istianah ni'mah putri pasangan sebagai pendamping hidup beliau.  Dari   pernikahan itu  yang dijalani dengan keharmonisan keluarga, beliau di karunia oleh Allah SWT mempunyai delapan putra-putri diantarnya yaitu: 1.) K.H.Sa'adduddin an-Nasih Lc, 2.) Khifni Nasif  3.) Nayyifaz Zahrihah 4.) Ala'uddin Najih 5.) Nasifuddin Al-A'la 6.) Nasi'uddin Al-Asfa.

Kiprah beliau dipondok pesantren dan masyarakat
Seudah pulang dari pondok dan menetap di Desa Ngembal Rejo beliau menjadi tangan kanan Mbah Zaenuri, karena segala pengajian maupun urusan pondok beliau ikut membantu dengan penuh rasa ikhlas dan semangat untuk linasyri dinil islam.

Dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat beliau dijadikan sebagai tempat untuk mengadu pemasalahan-permasalahan agama di Desasa Ngembalrejo, KH. Ahmaad Fathi juga memberikan pengajian yang berupa tausiyah kepada masyarakat  sekitar , dan para santri khususnya baik masalah fan-fan ilmu seperti fiqh, hadits, maupun tafsir, maupun masalah kekeluargaan.

Ditengah kesibukan dalam mengajar santri-santrinya beliau juga menjadi guru di Madrasah Diniyyah bersama romo kyai setempat diantarannya adalah  K. Abdullah, K. Abdul Bari,KH.Ahmad Zaenuri, K. Masyhud dengan ikhlas dan tanpa pamrih, sehingga pada kegigihan beliau bersama para ustadaz dalam mengajar para santri membuahkan hasil,  akhirnya jumlah santri mengalami peningkatan’ disamping itu tempat untuk sekolah Diniyyah  yang ada di aula pondok tidak mencukupi, kemudian ada inisiatif dan saran dari ustad-ustad untuk meminta ruangan kelas sendiri dari Yayasan  Darul Ulum. Walhasil  permintaan tersebut diterima oleh pengurus Yayasan Darul ’Ulum. Kemudian  pada tahun 1971 Madrasah Diniyyah yang asalmulanya  di aula pondok selatan, sekarang kelasnya di pindah di halaman Madrasah Ibtidaiyyah (MI 01, MI 02) .

Metode pengajaran  dan kitab-kitab yang diajarkan beliau
Beliau KH Ahmad Fathi adalah sosok kyai yang selalu istiqomah dan tak kenal lelah, maupun bosan dalam mengajarkan ilmunya pada para santri baik dalam keadaan bagaiamanapun. Adapun jadwal pengajiannya  di Dalem  mulai jam 08.00 s/d 11.00 dan ba'da maghrib jam 17.30 s/d  20.30 WIB.  Sisi yang patut di teladani para santri, hal tersebut seperti maqolah

الاستقامة خيرمن ألف كرمة
           
Adapun kitab- kitab yang diajarkan beliau para santri maupun masyarakat sekitar adalah kitab kuning yang masih relevan sampai sekarang seperti Tafsir jalalin, Fathul Wahab, Irsyadul Ibad, dankitab-kitab yang lainya. Dan disamping itu beliau juga mengajar kitab yang selalu dibaca (ketika hatam diulangi kembali) yaitu fathul qorib dan ibnu aqil. Beliau dalam mengajarkan kitab-kitab salaf tersebut dengan menggunakan metode bandongan (kyai membaca dan para santri memaknainya maupun mendengarkan keterangan tersebut). Karena itulah metode-metode yang biasa dilakukan Kyai-kyai terdahulu.

Wafat beliau

Tiada kehidupan yang abadi, itulah yang dihadapi oleh semuia manusia, begitu juga yang dihadapi oleh beliau , setelah mengemban tugas yang berat sebagai kyai sehinga pada 2001 dipanggil oleh yang maha kuasa meninggalkan keluarga,santri, dan masyarakat untuk selama-lamanya.dan semoga amal-amal beliau diterima  disisi oleh Allah SWT. Aminnnn.

Sabtu, 20 Juli 2013

Persoalan Infaq

Salat idul fitri rnerupakan aktifitas kaum muslim setiap hari hari raya idul fitri, karena pada saat itu merupakan tempat berkurnpulnya keluarga sehingga tampak pada setiap masjid dipadati oleh Jamaah untuk sholat Idul Fitri, melihat fenomena tersebut sekelompok panitia pembangunan gedung sekolah memanfaatkannya dengan menarik infaq pada jamaah sholat ied disuatu masjid, dengan besar infaq 5 ribu hinga l0 ribu rupiah, kemudian diberi kupon tanda terima infaq, dan orang yang menerima uang infaq tersebut berdiri di dalam masjid. sedangkan didalarn masjid sendiri pun juga ada kotak amal sendiri, sehingga kotak amal tersebut hasilnya kemungkinan tidak sebesar dari hasil penarikan infaq yang dipungut di depan masjid.

Pertanyaan:
Bagaimanakah hukum penarikan infaq diatas mengingat kemungkinan bisa mengurangi pendapatan kotak amal Masjid, sedangkan hasil penarikan tersebut bukan untuk kemaslahatan masjid ?
      
Jawaban:
1.             Makruh Tanjih, karena pemungutan tersebut tidak ada unsur kemaslahatan terhadap masjid.
( الفتاوى الهندية 319 ج 5 )
وَسُئِلَ الْخُجَنْدِيُّ عن قَيِّمِ الْمَسْجِدِ يُبِيحُ فِنَاءَ الْمَسْجِدِ لِيَتَّجِرَ الْقَوْمُ هل له هذه الْإِبَاحَةُ فقال إذَا كان فيه مَصْلَحَةٌ لِلْمَسْجِدِ فَلَا بَأْسَ بِهِ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى قِيلَ له لو وَضَعَ في الْفِنَاءِ سُرُرًا فَآجَرَهَا الناس لِيَتَّجِرُوا عليها وَأَبَاحَ لهم فِنَاءَ ذلك الْمَسْجِدِ هل له ذلك فقال لو كان لِصَلَاحِ الْمَسْجِدِ فَلَا بَأْسَ بِهِ إذَا لم يَكُنْ مَمَرًّا لِلْعَامَّةِ وَسُئِلَ عن فِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَهُوَ الْمَوْضِعُ الذي بين يَدَيْ جِدَارِهِ أَمْ هو سُدَّةُ بَابِهِ فَحَسْبُ فقال فِنَاءُ الْمَسْجِدِ ما يُظِلُّهُ ظُلَّةُ الْمَسْجِدِ إذَا لم يَكُنْ مَمَرًّا لِعَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ.
( فتح البارى لابن رجب ) ج 2 ص 365
ويتصل بهذا : التصدق في المسجد على السائل ، وهو جائز ، وقد كان الإمام أحمد يفعله ، ونص على جوازه ، وإن كان السؤال في المسجد مكروها.
وقال أبو داود في ( ( سننه ) ) : ( ( باب : السؤال في المسجد ) ) ، ثم خرج من طريق مبارك بن فضالة ، عن ثابت البناني ، عن عبد الرحمن بن أبي ليلى ، عن عبد الرحمن بن أبي بكر ، قال : قال رسول الله ( : ( ( أفيكم من أطعم اليوم مسكينا ؟ ) ) قال أبو بكر : دخلت المسجد فإذا أنا بسائل يسأل ، فوجدت كسرة خبز في يد عبد الرحمن ، فأخذتها فدفعتها إليه .

)تحفة المحتاج في شرح المنهاج ( - (ج 42 / ص 423)
( قَوْلُ الْمَتْنِ : وَقِيلَ يَحْرُمُ ) اسْتَشْكَلَهُ الْإِمَامُ بِأَنَّهُ إذَا كَانَ النَّصْبُ جَائِزًا فَكَيْفَ يَحْرُمُ طَلَبُ الْجَائِزِ ؟ وَنَظِيرُ هَذَا سُؤَالُ الصَّدَقَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ وَيَجُوزُ إعْطَاؤُهُ عَلَى الْأَصَحِّ إذْ الْإِ عَطَاءُ بِاخْتِيَارِ الْمُعْطِي فَالسُّؤَالُ كَالْعَدَمِ .
( فتح البارى لابن رجب ) ج 2 ص 365
ومنع منه أصحاب أبي حنيفة ، وغلظوا فيه حتى قال خلف بن أيوب منهم : لو كنت قاضيا لم أجز شهادة من تصدق على سائل في المسجد .
ومنهم من رخص فيه إذا كان السائل مضطرا ، ولم يحصل بسؤاله في المسجد ضرر .
ولأصحابنا وجه : يكره السؤال والتصدق في المساجد مطلقا .
( الخاىى للفتاوى  89 )
لحمد لله وسلام على عباده الذين اصطفى . السؤال في المسجد مكروه كراهة تنزيه ، وإعطاء السائل فيه قربة يثاب عليها وليس بمكروه فضلاً عن أن يكون حراماً هذا هو المنقول والذي دلت عليه الأحاديث ، أما النفل فقال النووي في شرح المهذب في باب الغسل : فرع لا بأس بأن يعطى السائل في المسجد شيئاً لحديث عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق [ رضي الله عنهما ] قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( هل منكم أحد أطعم اليوم مسكيناً ؟ ) فقال أبو بكر : دخلت المسجد فإذا أنا بسائل يسأل فوجدت كسرة خبز في يد عبد الرحمن فأخذتها فدفعتها إليه ، رواه أبو داود بإسناد جيد هذا كلام شرح المهذب بحروفه ، والحديث الذي أورده فيه دليل للأمرين معاً أن الصدقة عليه ليست مكروهة ، وأن السؤال في المسجد ليس بمحرم لأنه صلى الله عليه وسلّم اطلع على ذلك بأخبار الصديق ولم ينكره ولو كان حراماً لم يقر عليه بل كان يمنع السائل من العود إلى السؤال في المسجد ، وبذلك يعرف أن النهي عن السؤال في المسجد إن ثبت محمول على الكراهة والتنزيه وهذا صارف له عن الحرمة ،
                   
NB:     panitia tersebut dianjurkan tidak mengulangi lagi ( karena tidak ada kemaslahatan pada masjid )

Main-main Hutang

Dalam suatu daerah terdapat kejanggalan dalarn masalah hutang, sebut saja pak arman hutang sarnpai 100 juta, kernudian tidak bisa rnengembalikan hutangnya, sampai Pak Arman meniggal dunia, ketika Pak Modin berpidato perwakilan si mayyit mengatakan bahwa hutang tersebut ditanggung ahli waris anaknya yaitu yang bernama Pak Rudi, setelah kemudian ditanggung Pak Rudi, ternyata Pak Rudi juga mernpunyai hutang 100 juta lagi karena berpikiran " toh nanti hutangku paling di tanggung oleh ahli warisku " kemudian tidak sampai mengernbalikan hutang tersebut Pak Rudi juga rneninggal dunia, dan akhirnya hutang keduanya ditanggung oleh ahli waris Pak Rudi.

Pertanyaan :
a.              Sejauh ,rnanakah ahli waris dalam  menaggung  hutang si mayyit ( melihat si mayyit hutang dengan asal-asalan untuk berhutang )
Jawabanya ditafsil :
·                sunah menangggung(dhoman),ketika ahli waris mampu melunasi hutang,
·                haram menanggung , jika ahli waris tidak mampu melunasi  hutang  
·                wajib melunasi, jika sudah terjadi akad dhoman

وفرق فى المغنى بين النذر وغيره وقال تفريعا عليه إن الصوم (أى فى النذر) ليس بواجب على الولى لأن النبى شبهه بالدين ولا يجب على الولى قضاء دين الميت وإنما يتعلق بتركته إن كان له تركة وإلا فلا شىء على وارثه .
ولكن يستحب أن يقضى عنه لتفريغ ذمته وفك رهانه . ( فتاوى الازهر ج 5 ص 471 )

الضَّمَانُ عَنْهُ إلَخْ ) سَيَأْتِي لِلشَّارِحِ فِي بَقِيَّةِ حَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ مَا نَصُّهُ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَبِي قَتَادَةَ : هُمَا عَلَيْك وَفِي مَالِكَ ، وَالْمَيِّتُ مِنْهُمَا بَرِيءٌ ، فَقَالَ نَعَمْ ، فَصَلَّى عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ } فَفِيهِ تَصْرِيحٌ بِبَرَاءَةِ ذِمَّةِ الْمَيِّتِ ، وَعَلَيْهِ فَلَا يَنْدَفِعُ الْإِشْكَالُ بِمَا أَجَابَ بِهِ الشَّارِحُ لَكِنْ سَيَأْتِي لَهُ الِاعْتِذَارُ بِأَنَّ مُرَادَهُ بِقَوْلِهِ بَرِيءٌ : أَيْ فِي الْمُسْتَقْبَلِ ( قَوْلُهُ : وَذَلِكَ لَا يُوجِبُ بَرَاءَةَ ذِمَّتِهِ قَبْلَ الْقَضَاءِ ) أَيْ سَوَاءٌ خَلَّفَ وَفَاءً أَمْ لَا عَلَى مَا اعْتَمَدَهُ فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ ، وَصَرَّحَ بِهِ أَيْضًا حَجّ فِي أَوَّلِ الرَّهْنِ لَا يُقَالُ : مَا الْحِكْمَةُ فِي حَبْسِ رُوحِهِ إذَا لَمْ يُخَلِّفْ وَفَاءً مَعَ أَنَّهُ فِي حُكْمِ الْمُعْسِرِ وَالْمُعْسِرُ لَا يُحْبَسُ فِي الدُّنْيَا وَلَا يُلَازَمُ لِأَنَّا نَقُولُ : أَمْرُ الْآخِرَةِ يُغَايِرُ أَمْرَ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ حَبْسَ الْمُعْسِرِ فِي الدُّنْيَا لَا فَائِدَةَ فِيهِ ؛ لِأَنَّهُ لَا يُتَوَقَّعُ مِنْهُ وَفَاءٌ مَا دَامَ مَحْبُوسًا ، وَيُظَنُّ مِنْهُ الْوَفَاءُ إذَا لَمْ يُحْبَسْ ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَكْتَسِبُ مَا يَسْتَعِينُ بِهِ عَلَى وَفَاءِ الدَّيْنِ . وَأَمَّا الْآخِرَةُ فَالْحَبْسُ فِيهَا مُجَازَاةٌ لَهُ عَلَى بَقَاءِ الْحَقِّ فِي ذِمَّتِهِ حِفْظًا لِحَقِّ صَاحِبِ الدَّيْنِ وَيُسْتَوْفَى مِنْهُ بِأَخْذِ الْحَسَنَاتِ وَرَدِّ السَّيِّئَاتِ فَأَشْبَهَ مَنْ لَهُ مَالٌ فِي الدُّنْيَا فَيُنْتَظَرُ بِحَبْسِهِ حُضُورُ مَالِهِ ، وَعَلَيْهِ فَهُوَ مَعْقُولُ الْمَعْنَى ( نهاية المختاج ص 94 ج 15 )

قَالَ الرَّافِعِيُّ : وَلَا نَعْنِي بِالْعَجْزِ عَدَمَ الْإِمْكَانِ فَقَطْ بَلْ فِي مَعْنَاهُ : خَوْفُ الْهَلَاكِ ، أَوْ الْغَرَقُ ، أَوْ زِيَادَةُ الْمَرَضِ ، أَوْ لُحُوقُ مَشَقَّةٍ شَدِيدَةٍ ، أَوْ دَوَرَانُ الرَّأْسِ فِي حَقِّ رَاكِبِ السَّفِينَةِ كَمَا تَقَدَّمَ بَعْضُ ذَلِكَ (نهاية المحتاج ج 4 ص 94 )


فتح المعين - (ج 3 / ص 59) ويحرم الاقتراض على غير مضطر لم يرج الوفاء من جهة ظاهرة فورا في الحال،

NB: TIRKAH TIDAK BOLEH DI BAGI DULU, KETIKA SUDAH DIBAYAR HUTANGNYA 

membaca tasbih, shalawat, dan sterusnya sebelum Adzan

Pertanyaan:
Sebagaimana kebiasaan di suatu daerah, para muadzinnya membaca tasbih, shalawat dan sebagainya. Bagaimana hukumnya?

Jawab:
Membaca bacaan tersebut sebelum beradzan hukumnya  sunnah. Lihat dalam Hasiyah  I’anah Thalibin, juz 1, hlm. 242

عبارتها  :  و تسن الصلاة على النبى صلى الله عليه و سلم قبل الاقامة على ما قاله النووي فى شرح  الوسيط و اعتمده شيخنا ابن زياد و قال اما قبل الاذان فلم ار فى ذلك شيئا. و قال الشيخ الكبير رالبكرى انها تسن قبلها.